AKHLAK DALAM ISLAM
Dari Abu Hurairah ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda: ‘Mukmin yang paling baik imannya adalah yang paling
baik akhlaknya.” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad, dan Darimi).
Hadits ini menegaskan tentang pentingnya akhlaq dalam Islam. Selaras dengan hadits ini, Rasulullah saw bersabda:
((مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ)) [سنن الترمذي:7/ 284]
“Tiada sesuatu pun yang lebih memberatkan timbangan seorang hamba
mukmin pada hari kiamat dari akhlaq yang mulia.” (HR. At-Timidzi)
Adapun akhlaq dalam Islam sangat luas cakupannya, mencakup akhlaq
terhadap orang lain dan akhlaq terhadap lingkungan (binatang,
tumbuh-tumbuhan, dan alam pada umumnya). Rasulullah saw bersabda:
((إنَّ الله كَتَبَ الإحسّانَ على كُلِّ شيءٍ، فإذَا قَتَلْتُم
فَأَحْسِنُوا القِتْلَة، وإذا ذَبَحْتُم فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ،
وليُحِدَّ أحدُكُمْ شَفْرَتَهُ، ولْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ)) [رواهُ مُسلم]
“Sesungguhnya Allah swt telah mewajibkan berbuat ihsan dalam segala
hal. Maka jika kalian membunuh (musuh dalam peperangan) hendaknya kalian
lakukan dengan sebaik-baiknya, dan jika kalian menyembelih binatang,
hendaknya kalian melakukannya dengan sebaik-baiknya. Hendaklah setiap
orang dari kalian menajamkan pisau dan membuat nyaman hewan
sembelihannya.” (HR. Muslim)
Karena itu, dalam Islam kita dilarang membunuh musuh dengan
mencincang tubuhnya. Menyiksa sebelum membunuh. Dan lain sebagainya.
Demikian pula jika kita menyembelih hewan, hendaknya kita menajamkan
pisau agar tidak menyakitinya. Seperti inilah Islam mengajarkan akhlaq
yang baik. Tidak hanya kepada sesama manusia, tetapi juga kepada makhluk
Allah yang lain.
Pentingnya Akhlaq Dalam Islam.
Akhlaq memiliki kedudukan yang sangat penting dalam Islam. Setidak-tidaknya ada lima alasan untuk itu:
Alasan pertama, akhlaq merupakan ajaran Islam yang bersama aqidah
disyariatkan terlebih dahulu pada awal-awal masa kerasulan. Ini
menunjukkan betapa penting kedudukan akhlaq dalam Islam, hingga ia
disejajarkan dengan aqidah. Dan kebanyakan ayat-ayat yang turun pada
fase-fase awal ini, menganjurkan agar seorang muslim gemar menolong
orang-orang lemah, peduli terhadap sesama, dan di sisi lain banyak
mencela orang-orang yang suka menindas kaum lemah dan tidak memiliki
kepedulian sosial (QS. Al-Baqarah: 83).
Alasan kedua, akhlaq langsung dikaitkan dengan kualitas keislaman dan
keimanan seseorang. Hal ini tercermin dalam banyak hadits, antara lain:
((الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ)) [رواه البخاري: 6003]
“Seorang muslim adalah seseorang yang muslim lainnya selamat dari (kejahatan) lidah dan tangannya.” (HR. Al-Bukhari, no: 6003)
((والله لا يؤمنُ، والله لا يُؤمنُ، والله لا يُؤمِنُ)) قالوا: مَنْ ذاك يا
رسولَ اللهِ ؟! قال: ((مَنْ لا يأمَنُ جارُهُ بوائِقَهُ)) [رواه البخاري:
6016]
“Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah,
tidak beriman.” Para sahabat bertanya, “Siapa wahai rasulullah?” beliau
menjawab, “Seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari
kejahatannya.” (HR. Al-Bukhari, no. 6016)
((مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ
خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ
الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ
وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ))
“Barangsiapa beriman kepada Allah swt dan hari akhir, hendaknya ia
berkata-kata yang baik atau diam. Barangsiapa beriman kepada Allah swt
dan hari akhir hendaknya ia memuliakan tetangganya. Dan barangsiapa
beriman kepada Allah swt dan hari akhir, hendaknya ia memuliakan
tamunya.”
Semua hadits di atas, juga masih banyak hadits lainnya, menyatakan
bahwa seseorang baru disebut muslim dan orang yang beriman, apabila
memiliki bentuk-bentuk akhlaq terpuji, serta jauh dari bentuk-bentuk
akhlaq tercela.
Alasan ketiga, akhlaq yang baik bisa melebihi ibadah. Sebaliknya
akhlaq yang buruk bisa menghapus pahala Ibadah. Dalam banyak hadits
disebutkan, di antaranya hadits-hadits berikut ini:
((أَنَّ امْرَأَةً بَغِيًّا رَأَتْ كَلْبًا فِي يَوْمٍ حَارٍّ يُطِيفُ
بِبِئْرٍ قَدْ أَدْلَعَ لِسَانَهُ مِنْ الْعَطَشِ فَنَزَعَتْ لَهُ
بِمُوقِهَا فَغُفِرَ لَهَا)) (رواه مسلم: 4163)
“Ada seorang pelacur melihat anjing pada suatu hari yang sangat
panas, anjing itu mengelilingi sumur sambil menjulurkan lidah karena
kehausan. Lalu dia melepas sepatunya, menuruni sumur itu, lalu memberi
minum anjing tersebut, maka Allah swt Mengampuninya.” (HR. Muslim, no.
4163)
((أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّلَاةِ
وَالصَّدَقَةِ؟)) قَالُوا: بَلَى، يَارَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: ((إِصْلَاحُ
ذَاتِ الْبَيْنِ، وَفَسَادُ ذَاتِ الْبَيْنِ هُوَ الْحَالِقَةُ)) (رواه
أبو داود: 4273)
“Maukah kalian saya tunjukkan sebuah amal yang lebih baik daripada
puasa, shalat, dan sadaqah?” para sahabat menjawab, “Tentu, wahai
Rasulullah.” Beliau bersabda, “Yaitu memperbaiki hubungan keluarga,
karena rusaknya hubungan keluarga ibarat gunting yang memotong agama.”
(HR. Abu Dawud, no. 4273)
قيل لرسول الله صلى الله عليه وسلم: إن فلانة تصلي الليل وتصوم النهار
وفي لسانها شيء يؤذي جيرانها سليطة، قال: «لا خير فيها هي في النار» وقيل
له: إن فلانة تصلي المكتوبة وتصوم رمضان وتتصدق بالأثوار وليس لها شيء غيره
ولا تؤذي أحدا، قال: «هي في الجنة» (هذا حديث صحيح الإسناد ولم يخرجاه)
[رواه الحاكم في المستدرك: 7412]
Diceritakan kepada Rasulullah saw ada seorang wanita yang gemar
shalat malam, berpuasa di siang hari, tetapi lidahnya sangat pedas suka
menyakiti tetangganya. Rasul bersabda, “Tiada kebaikan padanya, dia
berada dalam neraka.” Juga diceritakan kepada beliau, ada seorang wanita
yang hanya shalat wajib, berpuasa hanya pada bulan ramadan, bersedekah
hanya dengan susu kering, ia tidak memiliki amal apapun kecuali itu
selain ia tidak menyakiti seorang pun. Rasul bersabda, “Dia berada dalam
surga.” (HR. Al-Hakim, no. 7412)
Alasan keempat, akhlaq yang buruk adalah cerminan dari iman yang
lemah dan hati yang kotor. Sebaliknya hati yang bersih dan penuh dengan
keimanan, akan mengarahkan pemiliknya untuk selalu berakhlaq baik. Jadi
akhlaq adalah sebuah indikator. Dalilnya adalah hadits-hadits yang baru
saja kita lewati.
Sedangkan alasan kelima, akhlaq yang buruk merupakan kezhaliman
kepada orang lain, yang akan menghabiskan amal baik. Rasulullah saw
bersabda:
((أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟)) قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا
دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ، فَقَالَ: ((إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي
يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ، وَصِيَامٍ، وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي
قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ
هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ
حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا
عَلَيْهِ، أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي
النَّارِ)) (رواه مسلم: 4678)
“Tahukah kalian siapakah orang bangkrut itu?” Para sahabat menjawab,
“Dia adalah orang yang uang dan kekayaannya telah habis.” Beliau
menjawab, “Orang bangkrut dari umatku, adalah seseorang yang datang pada
hari kiamat dengan pahala shalat, puasa, dan zakat. Tetapi pada saat
yang sama ia gemar mencaci orang lain, menuduh orang lain berzina,
memakan harta orang lain, menumpahkan darah orang lain, dan memukuli
orang lain, maka pahala kebaikannya ia berikan kepada orang ini dan
orang itu yang sewaktu di dunia ia zalimi. Ketika pahala kebaikannya
telah habis, dosa orang-orang yang dizaliminya ditimpakan kepada
dirinya, sehingga terlemparlah ia ke dalam neraka.” (HR. Muslim, no.
4678)
Minggu, 05 Februari 2012
Langganan:
Postingan (Atom)

